Please wait...



Blog

Blog/News

vaksin-haji.png

Mei 3, 2018 Uncategorized0

Semua peserta ibadah haji dan umroh wajib memiliki sertifikat yang menyatakan bahwa mereka telah memperoleh vaksinasi sebelum berangkat haji dan umroh. Selain itu, pemeriksaan kesehatan sebelum berangkat untuk menunaikan Ibadah Haji dan Umroh juga penting.

Selain kesehatan tubuh yang prima, beribadah bersama ribuan orang dari berbagai penjuru dunia membuat calon peserta Haji membutuhkan vaksinasi yang dapat mengurangi risiko terpapar bakteri dan virus berbahaya.

 

vaksinasi sebelum berangkat haji dan umrah
vaksinasi sebelum berangkat haji dan umrah

Vaksina apa saja yang perlu kita lengkapi sebelum pergi Haji & Umroh??

Vaksin Meningitis

Meningitis adalah infeksi yang menyebabkan peradangan pada selaput yang melindungi otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini berisiko tinggi terjadi di bagian tertentu di dunia, terutama Arab Saudi, sebagai tempat umat muslim menunaikan Ibadah Haji dan Umroh.

Untuk mencegahnya, vaksin meningitis menjadi vaksinasi yang diwajibkan oleh Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Sertifikat yang menyatakan bahwa mereka telah mendapat vaksin meningitis menjadi syarat calon Haji untuk mendapatkan visa. Berikut ini adalah sejumlah ketentuan pemberian vaksin:

  • Meningitis adalah penyakit yang disebabkan bakteri kelompok A, C, W, dan Y. Maka, semua jamaah wajib menerima satu dosis vaksin kuadrivalen polisakarida atau vaksin ACWY135.
  • Pemberian vaksin ini disarankan dilakukan 2-3 minggu sebelum keberangkatan, dan tidak kurang dari 10 hari sebelumnya. Jika sebelumnya pernah mendapat vaksin yang sama, pastikan bahwa waktu pemberiannya tidak lebih dari tiga tahun sebelumnya.
  • Jika diberikan pada orang dewasa dan anak-anak berusia lebih dari lima tahun, vaksin ini akan memberikan perlindungan dari meningitis selama lima tahun.
  • Untuk anak di bawah usia lima tahun, vaksinasi akan memberikan perlindungan selama 2-3 tahun. Namun pemberian pada balita usia dua bulan hingga tiga tahun harus diikuti dengan pemberian vaksin kedua pada tiga bulan setelahnya.
  • Vaksin jenis ini tidak dibolehkan untuk diberikan kepada bayi berusia kurang dari dua bulan.

Efek samping yang parah setelah pemberian vaksin ACWY sangat jarang terjadi. Sekitar 10 persen orang yang menerima vaksin ini mengalami nyeri dan kulit kemerahan yang umumnya akan hilang dalam 1-2 hari. Sementara, pada anak-anak terkadang mengalami demam.

Selain kewajiban atas pemberian vaksin meningitis, Kementerian Kesehatan Arab Saudi juga menyarankan calon Haji untuk mendapatkan vaksin influenza dan pneumonia sebelum keberangkatan.

Vaksin influenza Musiman

Jenis virus yang menyebabkan influenza berbeda-beda pada setiap tahunnya (musiman), sehingga pemberian vaksin disesuaikan dengan tipe tersebut.

Vaksin influenza dianjurkan untuk jamaah Haji& Umroh. Jangan lupa Vaksinasi Influenza 3-4 minggu sebelum keberangkatan. tentu kita tidak ingin Haji & Umroh kita trganggu karena masaah kesehatan seperti Influenza yang berat.

 

Vaksin pneumonia

Penyakit yang umumnya disebabkan infeksi bakteri Streptococcus pneumoniaeatau pneumokokus dapat dicegah dengan pemberian vaksin pneumonia. Vaksin ini disarankan bagi calon jamaah haji dengan kondisi tertentu, misalnya lansia berusia 65 tahun ke atas, anak-anak, dan orang dewasa pengidap penyakit kronis berupa diabetes, asma, gangguan ginjal, atau penyakit jantung.

Terdapat dua jenis vaksin pneumokokus yaitu Pneumococcal Conjugate Vaccine(PCV) dan Pneumococcal Polysaccharide Vaccine (PPV). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian vaksin PCV untuk anak berusia 2, 4, dan 6 bulan, kemudian vaksin ulangan atau booster diberikan pada usia 12-15 bulan.

Berbagai vaksin di atas diwajibkan oleh pemerintah Arab Saudi bagi orang yang akan melaksanakan Ibadah Haji. Jika Anda memiliki riwayat alergi terhadap sebagian atau seluruh vaksin (maupun kandungannya) yang diwajibkan, konsultasikan pada dokter sebelum Anda melakukan vaksinasi.

Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Menunaikan Ibadah Haji

Selain mendapatkan vaksin, salah satu persyaratan utama untuk memastikan perjalanan Ibadah Haji yang aman adalah melalui pemeriksaan kesehatan yang baik. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016 Tentang Istithaah Kesehatan Jemaah Haji, menyatakan bahwa seluruh jemaah Haji harus mendapatkan pemeriksaan dan pembinaan kesehatan agar tercapai kondisi istithaah kesehatan haji. Pemeriksaan kesehatan peserta Haji dilakukan dalam tiga tahap:

  • Tahap pertama. Dilaksanakan oleh tim pemberi pelayanan kesehatan di Puskesmas. Pemeriksaan ini dilakukan saat peserta Haji hendak melakukan pendaftaran untuk mendapatkan nomor porsi.
  • Tahap kedua. Dilaksanakan oleh Tim Penyelenggara Kesehatan Haji Kabupaten atau Kota di Puskesmas atau RS pada saat pemerintah telah menentukan kepastian keberangkatan Jemaah Haji.
  • Tahap Ketiga. Dilaksanakan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Bidang Kesehatan. Di tahap ini pemeriksaan kesehatan akan dilakukan untuk menentukan apakah Jemaah Haji layak terbang atau tidak sesuai dengan peraturan penerbangan internasional.

Sebelum menunaikan Ibadah Haji, pastikan kesehatan dan persyaratan untuk keberangkatan telah terpenuhi agar perjalanan Ibadah Anda dapat berjalan dengan baik.


pneumokokus-ig.png

Februari 2, 2018 NewsUncategorized0

Vaksin pneumokokus (atau PCV : Pneumococcal Conjugate Vaccine) adalah vaksin berisi protein konjugasi yang bertujuan mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae atau lebih sering disebut kuman pneumokokus. Vaksin ini ditujukan untuk mereka yang memiliki risiko tinggi terserang kuman pneumokokus. Penyakit yang disebabkan oleh kuman pneumokokus sering juga disebut sebagai penyakit pneumokokus. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dengan angka tertinggi menyerang anak usia kurang dari 5 tahun dan usia di atas 50 tahun. Terdapat kelompok lain yang memiliki resiko tinggi terserang pneumokokus (meskipun dari segi usia bukan risiko tinggi), yaitu anak dengan penyakit jantung bawaan, HIV, thalassemia, dan anak dengan keganasan yang sedang mendapatkan  kemoterapi serta kondisi medis lain yang menyebabkan kekebalan tubuh berkurang.

 

Vaksin pneumokokus pada anak diberikan dalam 3 kali dosis dasar dan 1 kali dosis boosting. Pada dewasa pemberian vaksin dibagi menjadi dua tahapan. Pertama, vaksin pneumokokus jenis konjugasi dan selanjutnya diberikan jenis vaksin pneumokokus polisakarida. Sedangkan pada anak diberikan pada usia di bawah 1 tahun dengan dosis 3 kali, yaitu pada usia 2, 4 dan 6 bulan (Lihat Jadwal Imunisasi IDAI). Prinsip pemberian vaksin pneumokokus pada anak adalah vaksin diberikan pada anak usia 2 bulan dengan interval  4 – 8 minggu dan diberikan sebanyak 4 kali, 3 dosis pada usia <1tahun (2,4, 6 bulan) dan booster 1 kali pada usia >1th (12-15 bulan). Pada anak usia >6 bulan dan belum pernah diberikan vaksin pnemokukus maka pemberian vaksin dapat mengikuti anjuran seperti table di bawah ini :

 

(gambar 1. dosis pemberian vaksin pneumokokus pada usia >7 bulan)

 

Vaksin pneumokokus memiliki efek samping yang lebih kecil dibandingkan dengan vaksin jenis lain, seperti vaksin DPT. Tidak ada kontraindikasi absolut memberikan vaksin, hanya saja pemberian pada bayi yang sedang demam dapat mempengaruhi rasa nyaman bayi. Pemberian vaksin tersebut ditakutkan akan menimbulkan kekhawatiran orangtua terhadap perjalanan penyakitnya yang semakin berat padahal tidak terkait imunisasi. Untuk itu, idealnya vaksin diberikan pada saat kondisi bayi atau anak yang sehat, meskipun kondisi sakit ringan bukan kontraindikasi pemberian vaksin.

 

 

Baca juga : Tanya Jawab DPT

 

(gambar 2. beberapa penyakit akibat infeksi bakteri pneumokokus)

 

Vaksin pneumokokus berguna mencegah penyakit pneumokokus, seperti penyakit radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis) dan infeksi darah (bakteremia). Penyakit pneumokokus merupakan penyebab kematian yang paling tinggi pada anak balita. Berdasarkan data Badan PBB untuk Anak-Anak (UNICEF), pada 2015 terdapat kurang lebih 14 persen dari 147.000 anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia meninggal karena pneumonia. Dari statistik tersebut, dapat diartikan sebanyak 2-3 anak di bawah usia 5 tahun meninggal karena pneumonia setiap jamnya. Hal tersebut menempatkan pneumonia sebagai penyebab kematian utama bagi anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia.

 

Menurut Dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A (K) pemberian vaksin pneumokokus dan HiB akan menurunkan 50% angka kematian balita akibat pneumonia. Melihat tingginya angka kematian akibat penyakit pneumokokus, pada tahun 2017 Kementerian Kesehatan akan merintis program imunisasi pneumokokus untuk seluruh anak Indonesia, yang akan dimulai dari Lombok Timur sebagai demonstration project.

 

Baca juga : Tanya Jawab BCG

 

Semua vaksin yang tercantum dalam jadwal imunisasi IDAI adalah vaksin yang direkomendasikan oleh IDAI dan Kementerian Kesehatan. Namun untuk saat ini, imunisasi pneumokokus masih dikelompokan sebagai imunisasi pilihan. Imunisasi pilihan adalah Imunisasi yang penyediaan vaksinnya belum diberikan secara gratis oleh pemerintah untuk seluruh anak Indonesia. Untuk mendapatkan vaksin pneumokokus, orangtua dapat menghubungi tempat praktek swasta, praktek pribadi ataupun rumah vaksinasi terdekat.

 

Sumber : Idai.or.id (Ikatan Dokter Anak Indonesia)


SKAR-BCG.png

Januari 9, 2018 BCGTUBERKULOSIS0

 

 

Sebulan lalu anak Saya disuntik vaksin BCG, kini muncul bisul yang menjadi koreng di tempat bekas suntikan. Apakah itu akibat salah suntikan?

Jawab : Vaksin BCG disuntikkan secara intradermal (ke dalam kulit) sehingga membentuk benjolan (indurasi). Awalnya benjolan tersebut akan segera hilang, tetapi kemudian akan muncul kembali setelah beberapa minggu. Jadi Bisul yang muncul sebulan setelah vaksin adalah normal, karena merupakan reaksi terhadap vaksin BCG. Bisul kecil (papula) dapat membesar dan terjadi koreng selama 2-3 bulan, kemudian menyembuh perlahan dan akan meninggalkan jaringan parut (parut BCG).

 

Bila koreng mengeluarkan cairan, orangtua dapat mengompresnya dengan cairan antiseptik. Namun bila cairan bertambah banyak atau koreng semakin membesar orangtua harus membawanya ke dokter.

 

Bila sudah divaksin BCG namun tidak terbentuk bisul apakah harus mengulang vaksinasi?

 

kalau tidak terbentuk bisul, BUKAN berarti vaksin BCG gagal atau tidak terbentuk proteksi. Jadi tetap dianggap sudah dilakukan vaksinasi, sehingganya tidak perlu dilakukan pengulangan walaupun bisul atau jaringan parut tidak terbentuk

 

#rumahvaksinasi #vaksin #vaksinasi #imunisasibayi #imunisasianak #klinikvaksinasi #klinikimunisasi #kesehatananak

IG : @rumahvaksinasi


Copyright by rumahvaksinasi.id 2018. All rights reserved.