Please wait...



Blog

Blog/News

pneumokokus-ig.png

Februari 2, 2018 NewsUncategorized0

Vaksin pneumokokus (atau PCV : Pneumococcal Conjugate Vaccine) adalah vaksin berisi protein konjugasi yang bertujuan mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae atau lebih sering disebut kuman pneumokokus. Vaksin ini ditujukan untuk mereka yang memiliki risiko tinggi terserang kuman pneumokokus. Penyakit yang disebabkan oleh kuman pneumokokus sering juga disebut sebagai penyakit pneumokokus. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dengan angka tertinggi menyerang anak usia kurang dari 5 tahun dan usia di atas 50 tahun. Terdapat kelompok lain yang memiliki resiko tinggi terserang pneumokokus (meskipun dari segi usia bukan risiko tinggi), yaitu anak dengan penyakit jantung bawaan, HIV, thalassemia, dan anak dengan keganasan yang sedang mendapatkan  kemoterapi serta kondisi medis lain yang menyebabkan kekebalan tubuh berkurang.

 

Vaksin pneumokokus pada anak diberikan dalam 3 kali dosis dasar dan 1 kali dosis boosting. Pada dewasa pemberian vaksin dibagi menjadi dua tahapan. Pertama, vaksin pneumokokus jenis konjugasi dan selanjutnya diberikan jenis vaksin pneumokokus polisakarida. Sedangkan pada anak diberikan pada usia di bawah 1 tahun dengan dosis 3 kali, yaitu pada usia 2, 4 dan 6 bulan (Lihat Jadwal Imunisasi IDAI). Prinsip pemberian vaksin pneumokokus pada anak adalah vaksin diberikan pada anak usia 2 bulan dengan interval  4 – 8 minggu dan diberikan sebanyak 4 kali, 3 dosis pada usia <1tahun (2,4, 6 bulan) dan booster 1 kali pada usia >1th (12-15 bulan). Pada anak usia >6 bulan dan belum pernah diberikan vaksin pnemokukus maka pemberian vaksin dapat mengikuti anjuran seperti table di bawah ini :

 

(gambar 1. dosis pemberian vaksin pneumokokus pada usia >7 bulan)

 

Vaksin pneumokokus memiliki efek samping yang lebih kecil dibandingkan dengan vaksin jenis lain, seperti vaksin DPT. Tidak ada kontraindikasi absolut memberikan vaksin, hanya saja pemberian pada bayi yang sedang demam dapat mempengaruhi rasa nyaman bayi. Pemberian vaksin tersebut ditakutkan akan menimbulkan kekhawatiran orangtua terhadap perjalanan penyakitnya yang semakin berat padahal tidak terkait imunisasi. Untuk itu, idealnya vaksin diberikan pada saat kondisi bayi atau anak yang sehat, meskipun kondisi sakit ringan bukan kontraindikasi pemberian vaksin.

 

 

Baca juga : Tanya Jawab DPT

 

(gambar 2. beberapa penyakit akibat infeksi bakteri pneumokokus)

 

Vaksin pneumokokus berguna mencegah penyakit pneumokokus, seperti penyakit radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis) dan infeksi darah (bakteremia). Penyakit pneumokokus merupakan penyebab kematian yang paling tinggi pada anak balita. Berdasarkan data Badan PBB untuk Anak-Anak (UNICEF), pada 2015 terdapat kurang lebih 14 persen dari 147.000 anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia meninggal karena pneumonia. Dari statistik tersebut, dapat diartikan sebanyak 2-3 anak di bawah usia 5 tahun meninggal karena pneumonia setiap jamnya. Hal tersebut menempatkan pneumonia sebagai penyebab kematian utama bagi anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia.

 

Menurut Dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A (K) pemberian vaksin pneumokokus dan HiB akan menurunkan 50% angka kematian balita akibat pneumonia. Melihat tingginya angka kematian akibat penyakit pneumokokus, pada tahun 2017 Kementerian Kesehatan akan merintis program imunisasi pneumokokus untuk seluruh anak Indonesia, yang akan dimulai dari Lombok Timur sebagai demonstration project.

 

Baca juga : Tanya Jawab BCG

 

Semua vaksin yang tercantum dalam jadwal imunisasi IDAI adalah vaksin yang direkomendasikan oleh IDAI dan Kementerian Kesehatan. Namun untuk saat ini, imunisasi pneumokokus masih dikelompokan sebagai imunisasi pilihan. Imunisasi pilihan adalah Imunisasi yang penyediaan vaksinnya belum diberikan secara gratis oleh pemerintah untuk seluruh anak Indonesia. Untuk mendapatkan vaksin pneumokokus, orangtua dapat menghubungi tempat praktek swasta, praktek pribadi ataupun rumah vaksinasi terdekat.

 

Sumber : Idai.or.id (Ikatan Dokter Anak Indonesia)


VAKSINASI-KEHAMILAN-ig.jpeg

Februari 2, 2018 Uncategorized0

Suatu sore di ruang praktik dokter, seorang ibu membawa anaknya berusia dua tahun untuk vaksinasi. Terlihat oleh dokter perut ibu yang membesar.

“ibu sudah ngisi lagi yaa?” tanya dokter.

“iya dok, ayahnya yang ingin cepat-cepat dapat anak lagi. Maklum dok nikah agak terlambat jadi harus cepat supaya tidak ketinggalan yang lain”, ujar sang ibu hamil.

“Ok semoga sehat ya debaynya, sekarang kan anaknya yang di vaksin. Bumil jangan lupa vaksin juga ya supaya sehat..”, nasihat dokter kepada si Ibu. “

“Eh, Ibu hamil juga boleh vaksin dok? Vaksin apa saja yang boleh? Saya kira semua vaksin tidak boleh untuk ibu Hamil..”, jawab si Ibu.

 

Percakapan di atas adalah segelintir pertanyaan yang muncul tentang vaksinasi pada kehamilan, masih banyak lagi pertanyaan yang sering ditanyakan tentang vaksin pada ibu hamil, antara lain :

Vaksin apa saja untuk ibu hamil dan apa akibat jika tidak vaksin saat hamil dok?

Saya sedang hamil ‘sekian minggu’ apakah ada vaksin yang dianjurkan? Sebab di kehamilan sebelumnya tidak ada anjuran vaksin apapun, bagimana dok?

Apakah ibu hamil boleh disuntik hepatitis B?

Vaksin apa yang tidak boleh saat hamil dok?

Apakah berbahaya setelah beberapa minggu vaksin kemudian saya positif hamil?

Masih banyak lagi pertanyaan tentang vaksinasi pada kehamilan. Pada prinsipnya, pemberian vaksin pada kehamilan dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan manfaat dan risiko terhadap ibu dan janin. Vaksinasi dianjurkan bila vaksin yang diberikan terbukti cukup aman dan manfaat untuk kehamilan lebih besar daripada risiko potensial bila terkena penyakit tersebut.

Secara teoritis, vaksin mati (virus inaktif, bakteri inaktif, toksoid) adalah aman dan dapat diberikan pada ibu hamil. Contohnya antara lain : Influenza, Tetanus Toksoid, (Tt) Tetanus Difteri Pertusis (Tdap). Beberapa vaksin ini juga boleh diberikan pada ibu hamil BILA MEMILIKI FAKTOR RISIKO, antara lain : Pneumokous polisakarida, meningokokus, Hepatits A, dan Hepatitis B

 

  • Tdap : direkomendasikan untuk diberikan pada wanita hamil trimester 2 atau 3 kehamilan. Pemerian vaksin ini saat kehamilan diharapkan membantu melindungi bayi dari tetanus-difer-pertusis pada awal kehidupan
  • INFLUENZA : Vaksin influenza jenis inaktif AMAN diberikan pada wanita hamil terutama pada trimester 2 dan 3
  • HEPATITIS b : dianjurkan pada wanita hamil yang berisiko hepatitis B, misalnya bila memiliki pasangan dengan HbsAg positif atau tinggal serumah dengan orang dengan infeksi Hepatits B akut atau karier kronik. Vaksin HepB berasal dari antigen permukaan virus hasil teknologi DNA rekombinan, karena berasal dari partikel antigen yang non infeksius maka tidak ada risiko terhadap janin.
  • Hepatitis A : vaksin diberikan pada wanita hamil hanya jika ada faktor risiko antara lain kecenderungan terpapar Hepatitis A, pergi ke daerah endemi Hepatitis A. Meskipun Keamanan vaksinasi hepatitis A selama kehamilan belum ditentukan; Namun, karena vaksin hepatitis A dihasilkan dari HAV yang tidak aktif, risiko teoritis pada janin yang sedang berkembang diperkirakan akan sangat rendah.
  • Pneumokokus : vaksin diberikan pada wanita hamil dengan faktor risiko, antara lain diabetes, penyakit kardiovaskular, asplenia, imunodefisiensi, asma, dan penyakit lain yang dapat menimbulkan infeksi pneumokokus
  • Meningokokus : Pemberian vaksin meningokok pada ibu hamil didasarkan pada pertimbangan besarnya manfaat proteksi yang diperoleh, dibandingkan risiko yang didapat apabila tidak divaksin. Kekebalan tubuh yang diperoleh dari vaksin meningokok adalah setelah 10-14 hari dari penyuntikan dan bertahan selama 2-3 tahun. Oleh karena itu, untuk mengurang risiko gangguan perkembangan janin akibat vaksin sebaiknya bagi wanita yang akan berencana menunaikan ibadah haji divaksinasi 2 tahun sebelum pemberangkatan haji.

 

Beberapa vaksin TIDAK ADA REKOMENDASI untuk diberikan pada wanita hamil, MESKIPUN SEBENARNYA BELUM ADA data yang menunjukkan hubungan antara vaksin dengan gangguan perkembangan janin. Antara lain. : vaksin Human Papillomavirus (HPV), Pnuemokokus konjugat (PCV), Tifoid Vi polisakarida

 

  • HPV : Jika seorang wanita ternyata hamil setelah memulai seri vaksinasi HPV, pemberian dosis setelahnya harus ditunda sampai selesai kehamilan. Tes kehamilan tidak diperlukan sebelum vaksinasi HPV. Jika dosis vaksin telah diberikan selama kehamilan, tidak diperlukan intervensi apapun.

 

Untuk vaksin hidup ,Secara teoritis, pemberian vaksin hidup berisiko untuk terjadi transmisi ke janin. Beberapa vaksin yang KONTRAINDIKASI / tidak boleh diberikan saat kehamilan antara lain : Varisella (cacar air), Zoster, dan MR/MMR (Campak – Gondongan – dan Rubella)

 

  • Varisella (cacar air) : Vaksinasi varisella selama kehamilan dikontraindikasikan karena efek terhadap janin belum diketahui jelas. Wanita yang divaksinasi sebaiknya menunda kehamilan selama 4 minggu setelah suntikan. Jika ternyata hamil dalam jarak waktu 4 minggu setelah kehamilan maka diperlukan konsultasi ke dokter kandungan.
  • MR/MMR :  vaksinasi MR/MMR dikontraindikasikan saat kehamilan. Bagi wanita yang divaksinasi sebaiknya menunda kehamilan dalam jeda waktu 4 minggu setelah suntikan.

BERIKUT INI TABEL REKOMENDASI VAKSINASI UNTUK ORANGA DEWASA DENGAN INDIKASI MEDIS/KONDISI TERTENTU :


VAKSINATE.jpeg

Februari 1, 2018 Uncategorized0

Apa beda vaksin DTP dan DTaP ? Mengapa vaksin DPaT jauh lebih mahal ?

Vaksin DTP dan DTaP kedua-duanya untuk mencegah penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Perbedaan utama pada komponen antigen untuk pertusis. Vaksin DTP berisi sel bakteri Pertusis utuh yang berisi ribuan antigen, termasuk antigen yang tidak diperlukan, sehingga sering menimbulkan reaksi panas tinggi, bengkak, merah, nyeri ditempat suntikan. Sedangkan vaksin DTaP berisi bagian bakteri pertusis yang tidak utuh dan hanya mengandung sedikit antigen yang dibutuhkan saja, sehingga jarang menimbulkan reaksi tersebut. Karena proses pembuatan DTaP lebih rumit, maka harganya jauh lebih mahal.

 

Setelah pemberian vaksin DTP , apa yang dapat terjadi pada bayi ?

Reaksi yang dapat terjadi segera setelah vaksinasi DTP antara lain demam tinggi, rewel, di tempat suntikan timbul kemerahan, nyeri dan pembengkakan, yang akan hilang dalam 2 hari. Orangtua/pengasuh dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak (ASI atau air buah), jika demam pakailah pakaian yang tipis, bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin, jika demam berikan parasetamol 10-15 mg/kgbb setiap 3 – 4 jam bila diperlukan, maksimal 6 kali dalam 24 jam, boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat. Jika reaksi-reaksi tersebut berat dan menetap, atau jika orangtua merasa khawatir, bawalah bayi/anak ke dokter.

 

Akhir-akhir ini sedang marak KLB Difteri? Saya mau vaksin difteri. Pakai vaksin apa?

Tidak ada vaksin difteri tunggal, yang tersedia adalah vaksin diteri kombinasi dengan beberapa vaksin, beberapa vjenis vaksin yang bisa digunakan antara lain :

Difteri dan Tetanus (DT, Td).

Difteri dengan tetanus dan Pertusis (DPT, DaPT, Tdap)

Difteri dengan Tetanus, pertusis, Hib, dan polio (DaPT-Hib_Polio)

Difteri dengan Tetanus, Pertusis, Hib, HepatitisB (Pertabio)

Difteri dengan Tetanus, Pertusis, Hib, HepatitisB, dan Polio (DapT-Hib-HepB-Polio)

 

 

Sumber : Buku Pedoman Imunisasi Di Indonesia


cara-penularan-cacar-air.jpg

Januari 3, 2018 Uncategorized0

Apakah Varicella itu?

Varicella, atau yang kita kenal dengan cacar air, merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh virus varicella-zoster (VVZ).Penyakit varicella-zoster disebabkan oleh infeksi primer VVZ, sedangkan reaktivasi VVZ mengakibatkan timbulnya Herpes zoster.


Copyright by rumahvaksinasi.id 2018. All rights reserved.