Please wait...



Blog

Blog/News

TIFOID.jpeg

Maret 6, 2018 Uncategorized0

APA ITU TIFOID?

 

Tifoid (demam tifoid) atau lebih dikenal di Indonesia sebagai penyakit tipes adalah penyakit yang tidak bisa dianggap remeh. Tifoid disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Kuman patogen ini menginfeksi manusia dan menyebabkan banyak gejala antara lain : demam, lemah, lemas, nyeri perut, nyeri kepala, hilang nafsu makan, diare bahkan sampai gangguan kesadaran.

 

Orang yang terkena penyakit tifoid menjadi “karier/pembawa” penyakit ini dan dapat menularkan tifoid kepada orang lain. Umumnya, orang terinfeksi tifoid disebabkan karena memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman salmonella typhi.

 

Gejala tifoid dapat berupa gejala ringan hingga berat. Orang yang diduga terinfeksi kuman ini harus segera diobati. Bila tidak diobati dapat menjadi semakin berat bahkan dapat menyebabkan kematian. Kematian yang disebabkan oleh tifoid mencapai 10%-20% bila tidak diobati dan apabila diobati maka presentasi kematian turun hingga kurang dari 1%. Kematian akibat penyakit tifoid disebabkan kerena perforasi usus (bocor usus), perdarahan, dan karena komplikasi lainnya

 

BAGAIMANA TIFOID MENULAR?

 

Infeksi kuman tifoid terjadi melalui mulut dari makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri salmonelaa typhi. Kontaminasi tersebut dapat berasal dari urin atau feses penderita tifoid akut dan pembawa kuman.

 

Empat F (Finger, Flies, Fomites, and Fluid) dapat menyebarkan kuman Salmonella typhi ke makanan,minuman, buah, dan sayuran yang serung dikonsumsi tanpa  dicuci atau dimasak secara benar sebelumnya.

 

APA TANDA DAN GEJALA ANAK YANG TERKENA TIFOID?

 

Gejala demam tifoid pada anak umumnya lebih ringan disbanding dewasa, gejalanya bervariasi Antara lain ; demam satu minggu atau lebih, gangguan saluran pencernaan, dan gangguan kesadaran. Pada awalnya gejala dan keluhan mirip seperti infeksi pada umumnya.

 

Pada minggu kedua gejala semakin jelas;  demam yang terus menerus, lidah tifoid, gangguan pencernaan, bahkan gangguan kesadaran. Bercak kemerahan seringkali muncul pada akhir minggu pertama demam tifoid.

 

Komplikasi demam tifoid dapat mengenai pencernaan seperti perdarahan usus, perforasi/bocor usus, peritonitis. Kompilkasi lain yang mungkin dapat terjadi infeksi saluran nafas seperti bronchitis, dan bronkopneumonia.

 

 

BAGAIMANA MENCEGAH TIFOID?

 

Prinsip pencegahan yang paling penting yaitu mengobati penderita demam tifoid sampai tuntas supaya tidak menjadi pembawa kuman / karier. Hal yang tidak kalah pentingnya yaiutu penyediaan air bersih, jarak septic tank dengan sumber air >10m, menjaga makanan dan minuman yang sehat, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir terutama sebelum makan, dan jangan lupa untuk vaksinasi tifoid.

 

Di Bangkok, angka kejadian tifoid sangat rendah. Hamper tidak pernah dijumpai pasien rawat inap karena demam tifoid. Hal ini dapat terjadi karena vaksinasi tifoid diwajibkan bagi warga Bangkok sejak sekolah dan diulang setiap tahun. Dengan semakin rendahnya angka kejadian penyakit demam tifoid, semakin sedikit pula angka penularan serta kemungkinan menjadi pembawa / karier.

 

SIAPA YANG PERLU VAKSIN TIFOID?

 

Indonesia termasuk wilayah endemis tifoid, artinya setiap tahun kejadian tifoid masih tinggi. Vaksin tifoid sangat dianjurkan terutama untuk ANAK USIA SEKOLAH, DEWASA MUDA, petugas KULINER yang berhubungan dengan makanan dan minuman, Anggota TNI, petugas laboratorium, dan juga wisatawan yang akan bepergian di wilayah endemic demam tifoid (termasuk Indonesia).

 

KAPAN VAKSIN TIFOID DIBERIKAN?

 

Vaksin tifoid yang beredar di Indonesia saat ini adalah vaksin mati yang dibuat dari polisakarida antigen Vi kuman salmonella tiphy . Vaksin ini diberikan dengan cara disuntikkan sebanyak 0,5cc secara intramuscular (ke dalam otot). Vaksin tifoid polisakarida ini dapat diberikan MULAI usia 2 TAHUN dan diulang (booster) setiap 3 tahun.

 

SEBERAPA EFEKTIFKAH VAKSIN TIFOID?

 

Efektivitas vaksin tifoid yang beredar di Indonesia saat ini tidak terlalu tingga, berkisar 50% – 80%. Oleh karenanya meskipun telah melakukan vaksinasi, seseorang harus tetap menjaga kebersihan lingkungan dan terutama memakan makanan dan minuman yang sehat dan terjamin kebersihannya.


PROMO-DIFTER.jpeg

Februari 23, 2018 Uncategorized0

PROMO VAKSIN DIFTERI DEWASA

Kabar Gembira untuk Sobat RV Semua, dalam rangka mensukseskan program pencegahan Difteri, maka terhitung mulai 21 Februari kemarin, @rumahvaksinasi dan seluruh cabang mengadakan PROMO VAKSIN DIFTERI DEWASA (Td) (usia 7 tahun ke atas). Jangan sampai ketinggalan, silakan Ayah Bunda catat tempat & waktunya

 

Tempat : Seluruh Cabang Rumah Vaksinasi

Waktu : Mulai 21Februari 2018 s/d SELESAI MASA PROMO

Biaya : 100ribu/suntik (sudah termasuk pendaftaran & jasa konsultasi dokter)

 

SILAKAN DIMANFAATKAN SEGERA, daftarkan segera keluarga, anak, orangtua, ART, OrangTua, Aki Nini, Om, Tante, dll. Semakin banyak yg tervaksinasi = semakin banyak yg terlindungi

#rumahvaksinasi #rumahvaksin #vaksin #vaksinasi #imunisasianak #vaksindewasa #TerjangkauBerkualitas

 

 

LIHAT PROMO DI INSTAGRAM


JE-WASPADA.png

Februari 6, 2018 Uncategorized0

Vaksin Japanese enchepalitis atau sering disebut vaksin JE adalah salah satu vaksin ‘pendatang baru’ di Indonesia. Vaksin ini baru masuk di jadwal rekomendasi IDAI 2017 bersamaan dengan masuknya vaksin dengue. Mungkin masih ada diantara pembaca yang bingung apa itu Japanese Enchepalitis, kenapa namanya virus ‘Japanese’ tapi kenapa dianjurkan untuk anak di Indonesia. Simak penjelasannya di bawah ini :

Apa itu penyakit Japanese Encephalitis?

 

Japanese Encephalitis (JE) adalah penyakit radang otak (Ensefalitis) yang disebabkan oleh virus (Flavivirus) yang ditularkan melalui nyamuk. Penyakit ini banyak terjadi di kawasan Asia dan disebarkan oleh nyamuk Culex tritaeniorhynchus. Manusia bisa tertular penyakit Japanese Encephalitis apabila ia digigit nyamuk Culex yang terinfeksi. Biasanya nyamuk ini lebih aktif ketika malam. Nyamuk Culex ini banyak terdapat di area persawahan, peternakan dan irigasi.

 

Saat ini JE masih menjadi salah satu penyebab penting Ensefalitis virus terutama di Asia. Sebagai gambaran masalah, di wilayah benua Asia ada lebih dari 50.000 kasus klinis JE dengan 10.000 kematian setiap tahunnya.

 

(gambar : Indonesia termasuk daerah endemis JE – berwarna kuning)

Bagaimana gambaran JE di Indonesia?

 

Pada tahun 2014-2016 kasus positif JE ditemukan di 8 provinsi di Indonesia antara lain : Bali, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, NTT, DI Yogya, DKI Jakarta, dan Batam. Kasus JE di Indonesia pada 2016 dilaporkan ada 326 kasus JE, dan yang terbanyak terjadi di Provinsi Bali yakni 226 kasus atau 69 persen dari total kasus tersebut.

 

Sebelumnya pada tahun 2001 – 2003 telah dilakukan surveilans di  Bali dan dari hasil surveilans didapatkan bahwa kasus JE ditemukan di seluruh kabupaten di Bali. Di Bali, kasus Japanese Encephalitis cukup tinggi kemungkinan disebabkan karena banyaknya area sawah dan peternakan babi di area tersebut.

 

(Gambar : berita anak meninggal karena JE di Jakarta)

Bagaimana virus Japanese Encephaltis menulari manusia?

 

Virus JE ditularkan melalui gigitan nyamuk, terutama jenis Culex. Nyamuk ini bertelur di air yang menggenang misalnya di persawahan, rawa, dan terutama saat musim penghujan. Nyamuk Culex menggigit manusia paling sering saat malam hari.

 

Pejamu adalah tempat virus memperbanyak diri. Pejamu virus JE yang paling penting adalah babi dan burung. Nyamuk Culex awalnya menggigit pejamu (Babi & burung) yang terinfeksi dan kemudian menularkan virus JE ke manusia melalui gigitannya.

 

(Gambar siklus penularan JE)

Apa saja gejala infeksi virus japanese encephalitis?

 

Masa inkubasi virus JE adalah 5-15 hari. Sebagian besar penderita JE hanya menunjukkan gejala ringan atau bahkan asimtomatik (tidak ada gejala). Hanya 1% yang menimbulkan gejala, Gejala yang mungkin muncul bervariasi. Pada awalnya seperti gejala demam virus lainnya ; demam tinggi, nyeri kepala, pilek nyeri perut, muntah, diare. gejala lain yang mungkin muncul : otot menjadi lemas, kejang, dan kesadaran menurun. Ensefalitis (radang otak) merupakan gejala infeksi JE yang paling berat.

 

Gejala yang sering muncul pada anak biasanya berbeda dengan dewasa. Gejala demam tinggi muncul pada anak dan dewasa. Kaku kuduk, kejang, dan perubahan perilaku lebih sering terjadi pada anak. Sedangkan nyeri kepala dan nyeri otot lebih sering terjadi pada dewasa.

 

(Gambar. Gejala klinis yang mungkin timbul pada infeksi JE)

Pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan?

 

Untuk menetapkan seseorang benar-benar terkena JE tidaklah mudah. Harus digali riwayat perjalanan ke tempat endemis JE, Bekas gigitan nyamuk di wilayah endemis JE. Gejala klinis yang terjadi pun dapat bervariasi dan tidak khas seperti demam tinggi, mual, muntah, nyeri kepala, perubahan perilaku, dan kejang. Pemeriksaan laboratorium khusus diperlukan untuk mendeteksi adanya IgM spesifik JE pada darah maupun carian serebrospinal.

Apakah penyakit Japanese Encephalitis bisa diobati?

 

Hingga saat ini, tidak ada pengobatan spesifik yang efektif untuk infeksi JE. Pengobatan sifatnya simptomatik, artinya obat-obatan yang digunakan hanya bertujuan untuk meringankan gejala yang muncul, bukan untuk membasmi virus penyebab.

Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah Japanese Encephalitis?

 

Pencegahan yang bisa dilakukan antara lain menghindari gigitan nyamuk dengan cara :

 

  • Menggunakan anti nyamuk (lotion/spray) yang aman bagi kulit
  • Memakai pakaian tertutup bila beraktivitas di luar rumah
  • Menggunakan kelambu saat tidur/ air conditioner
  • Meminimalisir kegiatan di malam hari di area pertanian, ladang, atau persawahan di mana banyak terdapat nyamuk Culex.

 

Selain melakukan pencegahan dari gigitan nyamuk, diperlukan juga pencegahan khusus yaitu VAKSINASI. Vaksinasi berguna untuk memberikan kekebalan spesifik terhadap virus JE

 

WHO merekomendasikan pemberian vaksin JE pada negara endemis JE dan Indonesia TERMASUK salah satu negara ENDEMIS JE. Vaksin yang tersedia di Indonesia saat ini adalah vaksin hidup yang dilemahkan/ ‘live attenuates recombinant JEV’ dengan merek dagang IMOJEV®. Vaksin ini direkomendasikan untuk anak usia >12 bulan. Pada anak usia 12 bulan hingga 18 tahun diberikan 1 dosis dan perlu dilakukan dosis booster 1-2 tahun kemudian.

 

Efek samping vaksin JE biasanya ringan dan bersifat sementara seperti nyeri pada tempat suntikan, demam, nyeri kepala, rewel, dan lemas yang akan hilang dalam beberapa hari.

 

(Gambar : vaksinasi merupakan salah satu upaya efektif dalam pencegahan JE)

Siapa saja yang tidak disarankan untuk vaksin JE?

 

  • Vaksin JE tidak boleh diberikan bila seseorang riwayat reaksi anafilaksis pada vaksinasi JE sebelumnya.
  • Vaksin IMOJEV® merupakan vaksin hidup yang dilemahkan ini tidak boleh diberikan pada IBU HAMIL dan pasien dengan imunokompromise. Pasien juga disarankan menghindari kehamilan dalam jarak 4 minggu setelah penyuntikan.

 

 

 

______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

 

sumber :
  • Pusponegoro H, Sitaresmi MN, Hartoyo E. Japanese Ensefalitis. dalam: Pedoman Imunisasi di Indonesia. Jakarta: Satgas Imunisasi IDAI; 2017
  • Rengganis I, Mastini KA, Sundoro J. Japanee Enchepalitis. dalam: Pedoman imunisasi pada orang dewasa. Jakarta; Badan Penerbit FKUI; 2012
  • https://emedicine.medscape.com/article/233802-overview diakses tgl 4 februari 2018
  • https://www.cdc.gov/japaneseencephalitis/ diakses tgl 4 februari 2018

 

sumber gambar :
  • limijati hospital IG
  • Tibun news
  • http://health.liputan6.com
  • http://berita.baca.co.id

pneumokokus-ig.png

Februari 2, 2018 NewsUncategorized0

Vaksin pneumokokus (atau PCV : Pneumococcal Conjugate Vaccine) adalah vaksin berisi protein konjugasi yang bertujuan mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae atau lebih sering disebut kuman pneumokokus. Vaksin ini ditujukan untuk mereka yang memiliki risiko tinggi terserang kuman pneumokokus. Penyakit yang disebabkan oleh kuman pneumokokus sering juga disebut sebagai penyakit pneumokokus. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dengan angka tertinggi menyerang anak usia kurang dari 5 tahun dan usia di atas 50 tahun. Terdapat kelompok lain yang memiliki resiko tinggi terserang pneumokokus (meskipun dari segi usia bukan risiko tinggi), yaitu anak dengan penyakit jantung bawaan, HIV, thalassemia, dan anak dengan keganasan yang sedang mendapatkan  kemoterapi serta kondisi medis lain yang menyebabkan kekebalan tubuh berkurang.

 

Vaksin pneumokokus pada anak diberikan dalam 3 kali dosis dasar dan 1 kali dosis boosting. Pada dewasa pemberian vaksin dibagi menjadi dua tahapan. Pertama, vaksin pneumokokus jenis konjugasi dan selanjutnya diberikan jenis vaksin pneumokokus polisakarida. Sedangkan pada anak diberikan pada usia di bawah 1 tahun dengan dosis 3 kali, yaitu pada usia 2, 4 dan 6 bulan (Lihat Jadwal Imunisasi IDAI). Prinsip pemberian vaksin pneumokokus pada anak adalah vaksin diberikan pada anak usia 2 bulan dengan interval  4 – 8 minggu dan diberikan sebanyak 4 kali, 3 dosis pada usia <1tahun (2,4, 6 bulan) dan booster 1 kali pada usia >1th (12-15 bulan). Pada anak usia >6 bulan dan belum pernah diberikan vaksin pnemokukus maka pemberian vaksin dapat mengikuti anjuran seperti table di bawah ini :

 

(gambar 1. dosis pemberian vaksin pneumokokus pada usia >7 bulan)

 

Vaksin pneumokokus memiliki efek samping yang lebih kecil dibandingkan dengan vaksin jenis lain, seperti vaksin DPT. Tidak ada kontraindikasi absolut memberikan vaksin, hanya saja pemberian pada bayi yang sedang demam dapat mempengaruhi rasa nyaman bayi. Pemberian vaksin tersebut ditakutkan akan menimbulkan kekhawatiran orangtua terhadap perjalanan penyakitnya yang semakin berat padahal tidak terkait imunisasi. Untuk itu, idealnya vaksin diberikan pada saat kondisi bayi atau anak yang sehat, meskipun kondisi sakit ringan bukan kontraindikasi pemberian vaksin.

 

 

Baca juga : Tanya Jawab DPT

 

(gambar 2. beberapa penyakit akibat infeksi bakteri pneumokokus)

 

Vaksin pneumokokus berguna mencegah penyakit pneumokokus, seperti penyakit radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis) dan infeksi darah (bakteremia). Penyakit pneumokokus merupakan penyebab kematian yang paling tinggi pada anak balita. Berdasarkan data Badan PBB untuk Anak-Anak (UNICEF), pada 2015 terdapat kurang lebih 14 persen dari 147.000 anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia meninggal karena pneumonia. Dari statistik tersebut, dapat diartikan sebanyak 2-3 anak di bawah usia 5 tahun meninggal karena pneumonia setiap jamnya. Hal tersebut menempatkan pneumonia sebagai penyebab kematian utama bagi anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia.

 

Menurut Dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A (K) pemberian vaksin pneumokokus dan HiB akan menurunkan 50% angka kematian balita akibat pneumonia. Melihat tingginya angka kematian akibat penyakit pneumokokus, pada tahun 2017 Kementerian Kesehatan akan merintis program imunisasi pneumokokus untuk seluruh anak Indonesia, yang akan dimulai dari Lombok Timur sebagai demonstration project.

 

Baca juga : Tanya Jawab BCG

 

Semua vaksin yang tercantum dalam jadwal imunisasi IDAI adalah vaksin yang direkomendasikan oleh IDAI dan Kementerian Kesehatan. Namun untuk saat ini, imunisasi pneumokokus masih dikelompokan sebagai imunisasi pilihan. Imunisasi pilihan adalah Imunisasi yang penyediaan vaksinnya belum diberikan secara gratis oleh pemerintah untuk seluruh anak Indonesia. Untuk mendapatkan vaksin pneumokokus, orangtua dapat menghubungi tempat praktek swasta, praktek pribadi ataupun rumah vaksinasi terdekat.

 

Sumber : Idai.or.id (Ikatan Dokter Anak Indonesia)


VAKSINASI-KEHAMILAN-ig.jpeg

Februari 2, 2018 Uncategorized0

Suatu sore di ruang praktik dokter, seorang ibu membawa anaknya berusia dua tahun untuk vaksinasi. Terlihat oleh dokter perut ibu yang membesar.

“ibu sudah ngisi lagi yaa?” tanya dokter.

“iya dok, ayahnya yang ingin cepat-cepat dapat anak lagi. Maklum dok nikah agak terlambat jadi harus cepat supaya tidak ketinggalan yang lain”, ujar sang ibu hamil.

“Ok semoga sehat ya debaynya, sekarang kan anaknya yang di vaksin. Bumil jangan lupa vaksin juga ya supaya sehat..”, nasihat dokter kepada si Ibu. “

“Eh, Ibu hamil juga boleh vaksin dok? Vaksin apa saja yang boleh? Saya kira semua vaksin tidak boleh untuk ibu Hamil..”, jawab si Ibu.

 

Percakapan di atas adalah segelintir pertanyaan yang muncul tentang vaksinasi pada kehamilan, masih banyak lagi pertanyaan yang sering ditanyakan tentang vaksin pada ibu hamil, antara lain :

Vaksin apa saja untuk ibu hamil dan apa akibat jika tidak vaksin saat hamil dok?

Saya sedang hamil ‘sekian minggu’ apakah ada vaksin yang dianjurkan? Sebab di kehamilan sebelumnya tidak ada anjuran vaksin apapun, bagimana dok?

Apakah ibu hamil boleh disuntik hepatitis B?

Vaksin apa yang tidak boleh saat hamil dok?

Apakah berbahaya setelah beberapa minggu vaksin kemudian saya positif hamil?

Masih banyak lagi pertanyaan tentang vaksinasi pada kehamilan. Pada prinsipnya, pemberian vaksin pada kehamilan dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan manfaat dan risiko terhadap ibu dan janin. Vaksinasi dianjurkan bila vaksin yang diberikan terbukti cukup aman dan manfaat untuk kehamilan lebih besar daripada risiko potensial bila terkena penyakit tersebut.

Secara teoritis, vaksin mati (virus inaktif, bakteri inaktif, toksoid) adalah aman dan dapat diberikan pada ibu hamil. Contohnya antara lain : Influenza, Tetanus Toksoid, (Tt) Tetanus Difteri Pertusis (Tdap). Beberapa vaksin ini juga boleh diberikan pada ibu hamil BILA MEMILIKI FAKTOR RISIKO, antara lain : Pneumokous polisakarida, meningokokus, Hepatits A, dan Hepatitis B

 

  • Tdap : direkomendasikan untuk diberikan pada wanita hamil trimester 2 atau 3 kehamilan. Pemerian vaksin ini saat kehamilan diharapkan membantu melindungi bayi dari tetanus-difer-pertusis pada awal kehidupan
  • INFLUENZA : Vaksin influenza jenis inaktif AMAN diberikan pada wanita hamil terutama pada trimester 2 dan 3
  • HEPATITIS b : dianjurkan pada wanita hamil yang berisiko hepatitis B, misalnya bila memiliki pasangan dengan HbsAg positif atau tinggal serumah dengan orang dengan infeksi Hepatits B akut atau karier kronik. Vaksin HepB berasal dari antigen permukaan virus hasil teknologi DNA rekombinan, karena berasal dari partikel antigen yang non infeksius maka tidak ada risiko terhadap janin.
  • Hepatitis A : vaksin diberikan pada wanita hamil hanya jika ada faktor risiko antara lain kecenderungan terpapar Hepatitis A, pergi ke daerah endemi Hepatitis A. Meskipun Keamanan vaksinasi hepatitis A selama kehamilan belum ditentukan; Namun, karena vaksin hepatitis A dihasilkan dari HAV yang tidak aktif, risiko teoritis pada janin yang sedang berkembang diperkirakan akan sangat rendah.
  • Pneumokokus : vaksin diberikan pada wanita hamil dengan faktor risiko, antara lain diabetes, penyakit kardiovaskular, asplenia, imunodefisiensi, asma, dan penyakit lain yang dapat menimbulkan infeksi pneumokokus
  • Meningokokus : Pemberian vaksin meningokok pada ibu hamil didasarkan pada pertimbangan besarnya manfaat proteksi yang diperoleh, dibandingkan risiko yang didapat apabila tidak divaksin. Kekebalan tubuh yang diperoleh dari vaksin meningokok adalah setelah 10-14 hari dari penyuntikan dan bertahan selama 2-3 tahun. Oleh karena itu, untuk mengurang risiko gangguan perkembangan janin akibat vaksin sebaiknya bagi wanita yang akan berencana menunaikan ibadah haji divaksinasi 2 tahun sebelum pemberangkatan haji.

 

Beberapa vaksin TIDAK ADA REKOMENDASI untuk diberikan pada wanita hamil, MESKIPUN SEBENARNYA BELUM ADA data yang menunjukkan hubungan antara vaksin dengan gangguan perkembangan janin. Antara lain. : vaksin Human Papillomavirus (HPV), Pnuemokokus konjugat (PCV), Tifoid Vi polisakarida

 

  • HPV : Jika seorang wanita ternyata hamil setelah memulai seri vaksinasi HPV, pemberian dosis setelahnya harus ditunda sampai selesai kehamilan. Tes kehamilan tidak diperlukan sebelum vaksinasi HPV. Jika dosis vaksin telah diberikan selama kehamilan, tidak diperlukan intervensi apapun.

 

Untuk vaksin hidup ,Secara teoritis, pemberian vaksin hidup berisiko untuk terjadi transmisi ke janin. Beberapa vaksin yang KONTRAINDIKASI / tidak boleh diberikan saat kehamilan antara lain : Varisella (cacar air), Zoster, dan MR/MMR (Campak – Gondongan – dan Rubella)

 

  • Varisella (cacar air) : Vaksinasi varisella selama kehamilan dikontraindikasikan karena efek terhadap janin belum diketahui jelas. Wanita yang divaksinasi sebaiknya menunda kehamilan selama 4 minggu setelah suntikan. Jika ternyata hamil dalam jarak waktu 4 minggu setelah kehamilan maka diperlukan konsultasi ke dokter kandungan.
  • MR/MMR :  vaksinasi MR/MMR dikontraindikasikan saat kehamilan. Bagi wanita yang divaksinasi sebaiknya menunda kehamilan dalam jeda waktu 4 minggu setelah suntikan.

BERIKUT INI TABEL REKOMENDASI VAKSINASI UNTUK ORANGA DEWASA DENGAN INDIKASI MEDIS/KONDISI TERTENTU :


Copyright by rumahvaksinasi.id 2018. All rights reserved.