Please wait...

YANG PERLU ANDA KETAHUI TENTANG JAPANESE ENCHEPALITIS

Februari 6, 2018 0
JE-WASPADA.png

Vaksin Japanese enchepalitis atau sering disebut vaksin JE adalah salah satu vaksin ‘pendatang baru’ di Indonesia. Vaksin ini baru masuk di jadwal rekomendasi IDAI 2017 bersamaan dengan masuknya vaksin dengue. Mungkin masih ada diantara pembaca yang bingung apa itu Japanese Enchepalitis, kenapa namanya virus ‘Japanese’ tapi kenapa dianjurkan untuk anak di Indonesia. Simak penjelasannya di bawah ini :

Apa itu penyakit Japanese Encephalitis?

 

Japanese Encephalitis (JE) adalah penyakit radang otak (Ensefalitis) yang disebabkan oleh virus (Flavivirus) yang ditularkan melalui nyamuk. Penyakit ini banyak terjadi di kawasan Asia dan disebarkan oleh nyamuk Culex tritaeniorhynchus. Manusia bisa tertular penyakit Japanese Encephalitis apabila ia digigit nyamuk Culex yang terinfeksi. Biasanya nyamuk ini lebih aktif ketika malam. Nyamuk Culex ini banyak terdapat di area persawahan, peternakan dan irigasi.

 

Saat ini JE masih menjadi salah satu penyebab penting Ensefalitis virus terutama di Asia. Sebagai gambaran masalah, di wilayah benua Asia ada lebih dari 50.000 kasus klinis JE dengan 10.000 kematian setiap tahunnya.

 

(gambar : Indonesia termasuk daerah endemis JE – berwarna kuning)

Bagaimana gambaran JE di Indonesia?

 

Pada tahun 2014-2016 kasus positif JE ditemukan di 8 provinsi di Indonesia antara lain : Bali, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, NTT, DI Yogya, DKI Jakarta, dan Batam. Kasus JE di Indonesia pada 2016 dilaporkan ada 326 kasus JE, dan yang terbanyak terjadi di Provinsi Bali yakni 226 kasus atau 69 persen dari total kasus tersebut.

 

Sebelumnya pada tahun 2001 – 2003 telah dilakukan surveilans di  Bali dan dari hasil surveilans didapatkan bahwa kasus JE ditemukan di seluruh kabupaten di Bali. Di Bali, kasus Japanese Encephalitis cukup tinggi kemungkinan disebabkan karena banyaknya area sawah dan peternakan babi di area tersebut.

 

(Gambar : berita anak meninggal karena JE di Jakarta)

Bagaimana virus Japanese Encephaltis menulari manusia?

 

Virus JE ditularkan melalui gigitan nyamuk, terutama jenis Culex. Nyamuk ini bertelur di air yang menggenang misalnya di persawahan, rawa, dan terutama saat musim penghujan. Nyamuk Culex menggigit manusia paling sering saat malam hari.

 

Pejamu adalah tempat virus memperbanyak diri. Pejamu virus JE yang paling penting adalah babi dan burung. Nyamuk Culex awalnya menggigit pejamu (Babi & burung) yang terinfeksi dan kemudian menularkan virus JE ke manusia melalui gigitannya.

 

(Gambar siklus penularan JE)

Apa saja gejala infeksi virus japanese encephalitis?

 

Masa inkubasi virus JE adalah 5-15 hari. Sebagian besar penderita JE hanya menunjukkan gejala ringan atau bahkan asimtomatik (tidak ada gejala). Hanya 1% yang menimbulkan gejala, Gejala yang mungkin muncul bervariasi. Pada awalnya seperti gejala demam virus lainnya ; demam tinggi, nyeri kepala, pilek nyeri perut, muntah, diare. gejala lain yang mungkin muncul : otot menjadi lemas, kejang, dan kesadaran menurun. Ensefalitis (radang otak) merupakan gejala infeksi JE yang paling berat.

 

Gejala yang sering muncul pada anak biasanya berbeda dengan dewasa. Gejala demam tinggi muncul pada anak dan dewasa. Kaku kuduk, kejang, dan perubahan perilaku lebih sering terjadi pada anak. Sedangkan nyeri kepala dan nyeri otot lebih sering terjadi pada dewasa.

 

(Gambar. Gejala klinis yang mungkin timbul pada infeksi JE)

Pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan?

 

Untuk menetapkan seseorang benar-benar terkena JE tidaklah mudah. Harus digali riwayat perjalanan ke tempat endemis JE, Bekas gigitan nyamuk di wilayah endemis JE. Gejala klinis yang terjadi pun dapat bervariasi dan tidak khas seperti demam tinggi, mual, muntah, nyeri kepala, perubahan perilaku, dan kejang. Pemeriksaan laboratorium khusus diperlukan untuk mendeteksi adanya IgM spesifik JE pada darah maupun carian serebrospinal.

Apakah penyakit Japanese Encephalitis bisa diobati?

 

Hingga saat ini, tidak ada pengobatan spesifik yang efektif untuk infeksi JE. Pengobatan sifatnya simptomatik, artinya obat-obatan yang digunakan hanya bertujuan untuk meringankan gejala yang muncul, bukan untuk membasmi virus penyebab.

Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah Japanese Encephalitis?

 

Pencegahan yang bisa dilakukan antara lain menghindari gigitan nyamuk dengan cara :

 

  • Menggunakan anti nyamuk (lotion/spray) yang aman bagi kulit
  • Memakai pakaian tertutup bila beraktivitas di luar rumah
  • Menggunakan kelambu saat tidur/ air conditioner
  • Meminimalisir kegiatan di malam hari di area pertanian, ladang, atau persawahan di mana banyak terdapat nyamuk Culex.

 

Selain melakukan pencegahan dari gigitan nyamuk, diperlukan juga pencegahan khusus yaitu VAKSINASI. Vaksinasi berguna untuk memberikan kekebalan spesifik terhadap virus JE

 

WHO merekomendasikan pemberian vaksin JE pada negara endemis JE dan Indonesia TERMASUK salah satu negara ENDEMIS JE. Vaksin yang tersedia di Indonesia saat ini adalah vaksin hidup yang dilemahkan/ ‘live attenuates recombinant JEV’ dengan merek dagang IMOJEV®. Vaksin ini direkomendasikan untuk anak usia >12 bulan. Pada anak usia 12 bulan hingga 18 tahun diberikan 1 dosis dan perlu dilakukan dosis booster 1-2 tahun kemudian.

 

Efek samping vaksin JE biasanya ringan dan bersifat sementara seperti nyeri pada tempat suntikan, demam, nyeri kepala, rewel, dan lemas yang akan hilang dalam beberapa hari.

 

(Gambar : vaksinasi merupakan salah satu upaya efektif dalam pencegahan JE)

Siapa saja yang tidak disarankan untuk vaksin JE?

 

  • Vaksin JE tidak boleh diberikan bila seseorang riwayat reaksi anafilaksis pada vaksinasi JE sebelumnya.
  • Vaksin IMOJEV® merupakan vaksin hidup yang dilemahkan ini tidak boleh diberikan pada IBU HAMIL dan pasien dengan imunokompromise. Pasien juga disarankan menghindari kehamilan dalam jarak 4 minggu setelah penyuntikan.

 

 

 

______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

 

sumber :
  • Pusponegoro H, Sitaresmi MN, Hartoyo E. Japanese Ensefalitis. dalam: Pedoman Imunisasi di Indonesia. Jakarta: Satgas Imunisasi IDAI; 2017
  • Rengganis I, Mastini KA, Sundoro J. Japanee Enchepalitis. dalam: Pedoman imunisasi pada orang dewasa. Jakarta; Badan Penerbit FKUI; 2012
  • https://emedicine.medscape.com/article/233802-overview diakses tgl 4 februari 2018
  • https://www.cdc.gov/japaneseencephalitis/ diakses tgl 4 februari 2018

 

sumber gambar :
  • limijati hospital IG
  • Tibun news
  • http://health.liputan6.com
  • http://berita.baca.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Copyright by rumahvaksinasi.id 2018. All rights reserved.