Please wait...

Vaksinasi Pada Kehamilan : Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh?

Februari 2, 2018 0
VAKSINASI-KEHAMILAN-ig.jpeg

Suatu sore di ruang praktik dokter, seorang ibu membawa anaknya berusia dua tahun untuk vaksinasi. Terlihat oleh dokter perut ibu yang membesar.

“ibu sudah ngisi lagi yaa?” tanya dokter.

“iya dok, ayahnya yang ingin cepat-cepat dapat anak lagi. Maklum dok nikah agak terlambat jadi harus cepat supaya tidak ketinggalan yang lain”, ujar sang ibu hamil.

“Ok semoga sehat ya debaynya, sekarang kan anaknya yang di vaksin. Bumil jangan lupa vaksin juga ya supaya sehat..”, nasihat dokter kepada si Ibu. “

“Eh, Ibu hamil juga boleh vaksin dok? Vaksin apa saja yang boleh? Saya kira semua vaksin tidak boleh untuk ibu Hamil..”, jawab si Ibu.

 

Percakapan di atas adalah segelintir pertanyaan yang muncul tentang vaksinasi pada kehamilan, masih banyak lagi pertanyaan yang sering ditanyakan tentang vaksin pada ibu hamil, antara lain :

Vaksin apa saja untuk ibu hamil dan apa akibat jika tidak vaksin saat hamil dok?

Saya sedang hamil ‘sekian minggu’ apakah ada vaksin yang dianjurkan? Sebab di kehamilan sebelumnya tidak ada anjuran vaksin apapun, bagimana dok?

Apakah ibu hamil boleh disuntik hepatitis B?

Vaksin apa yang tidak boleh saat hamil dok?

Apakah berbahaya setelah beberapa minggu vaksin kemudian saya positif hamil?

Masih banyak lagi pertanyaan tentang vaksinasi pada kehamilan. Pada prinsipnya, pemberian vaksin pada kehamilan dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan manfaat dan risiko terhadap ibu dan janin. Vaksinasi dianjurkan bila vaksin yang diberikan terbukti cukup aman dan manfaat untuk kehamilan lebih besar daripada risiko potensial bila terkena penyakit tersebut.

Secara teoritis, vaksin mati (virus inaktif, bakteri inaktif, toksoid) adalah aman dan dapat diberikan pada ibu hamil. Contohnya antara lain : Influenza, Tetanus Toksoid, (Tt) Tetanus Difteri Pertusis (Tdap). Beberapa vaksin ini juga boleh diberikan pada ibu hamil BILA MEMILIKI FAKTOR RISIKO, antara lain : Pneumokous polisakarida, meningokokus, Hepatits A, dan Hepatitis B

 

  • Tdap : direkomendasikan untuk diberikan pada wanita hamil trimester 2 atau 3 kehamilan. Pemerian vaksin ini saat kehamilan diharapkan membantu melindungi bayi dari tetanus-difer-pertusis pada awal kehidupan
  • INFLUENZA : Vaksin influenza jenis inaktif AMAN diberikan pada wanita hamil terutama pada trimester 2 dan 3
  • HEPATITIS b : dianjurkan pada wanita hamil yang berisiko hepatitis B, misalnya bila memiliki pasangan dengan HbsAg positif atau tinggal serumah dengan orang dengan infeksi Hepatits B akut atau karier kronik. Vaksin HepB berasal dari antigen permukaan virus hasil teknologi DNA rekombinan, karena berasal dari partikel antigen yang non infeksius maka tidak ada risiko terhadap janin.
  • Hepatitis A : vaksin diberikan pada wanita hamil hanya jika ada faktor risiko antara lain kecenderungan terpapar Hepatitis A, pergi ke daerah endemi Hepatitis A. Meskipun Keamanan vaksinasi hepatitis A selama kehamilan belum ditentukan; Namun, karena vaksin hepatitis A dihasilkan dari HAV yang tidak aktif, risiko teoritis pada janin yang sedang berkembang diperkirakan akan sangat rendah.
  • Pneumokokus : vaksin diberikan pada wanita hamil dengan faktor risiko, antara lain diabetes, penyakit kardiovaskular, asplenia, imunodefisiensi, asma, dan penyakit lain yang dapat menimbulkan infeksi pneumokokus
  • Meningokokus : Pemberian vaksin meningokok pada ibu hamil didasarkan pada pertimbangan besarnya manfaat proteksi yang diperoleh, dibandingkan risiko yang didapat apabila tidak divaksin. Kekebalan tubuh yang diperoleh dari vaksin meningokok adalah setelah 10-14 hari dari penyuntikan dan bertahan selama 2-3 tahun. Oleh karena itu, untuk mengurang risiko gangguan perkembangan janin akibat vaksin sebaiknya bagi wanita yang akan berencana menunaikan ibadah haji divaksinasi 2 tahun sebelum pemberangkatan haji.

 

Beberapa vaksin TIDAK ADA REKOMENDASI untuk diberikan pada wanita hamil, MESKIPUN SEBENARNYA BELUM ADA data yang menunjukkan hubungan antara vaksin dengan gangguan perkembangan janin. Antara lain. : vaksin Human Papillomavirus (HPV), Pnuemokokus konjugat (PCV), Tifoid Vi polisakarida

 

  • HPV : Jika seorang wanita ternyata hamil setelah memulai seri vaksinasi HPV, pemberian dosis setelahnya harus ditunda sampai selesai kehamilan. Tes kehamilan tidak diperlukan sebelum vaksinasi HPV. Jika dosis vaksin telah diberikan selama kehamilan, tidak diperlukan intervensi apapun.

 

Untuk vaksin hidup ,Secara teoritis, pemberian vaksin hidup berisiko untuk terjadi transmisi ke janin. Beberapa vaksin yang KONTRAINDIKASI / tidak boleh diberikan saat kehamilan antara lain : Varisella (cacar air), Zoster, dan MR/MMR (Campak – Gondongan – dan Rubella)

 

  • Varisella (cacar air) : Vaksinasi varisella selama kehamilan dikontraindikasikan karena efek terhadap janin belum diketahui jelas. Wanita yang divaksinasi sebaiknya menunda kehamilan selama 4 minggu setelah suntikan. Jika ternyata hamil dalam jarak waktu 4 minggu setelah kehamilan maka diperlukan konsultasi ke dokter kandungan.
  • MR/MMR :  vaksinasi MR/MMR dikontraindikasikan saat kehamilan. Bagi wanita yang divaksinasi sebaiknya menunda kehamilan dalam jeda waktu 4 minggu setelah suntikan.

BERIKUT INI TABEL REKOMENDASI VAKSINASI UNTUK ORANGA DEWASA DENGAN INDIKASI MEDIS/KONDISI TERTENTU :


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Copyright by rumahvaksinasi.id 2018. All rights reserved.