Please wait...

Invasive Pneumococcal Disease (IPD)

Januari 3, 2018 0
shutterstock_298040708-1200x786.jpg

Apa itu IPD?

Stretococcus pneumoniae atau sering disebut Pneumokokus adalah bakteri diplokokus gram positif yang bersifat anaerobik fakultatif dan mempunyai lebih dari 90 serotipe. Pneumokokus merupakan penyebab terpenting penyakit infeksi saluran nafas pada anak. Pneumokokus selain merupakan penyebab utama pneumonia (radang paru), juga menyebabkan meningitis (radang selaput otak), bakteremia (bakteri tersebar pada darah), sepsis (infeksi seluruh tubuh), sinusitis (radang sinus), otitis media (radang telinga tengah), dan konjungtivitis (radang selaput lendir mata) terutama pada anak usia < 2 tahun dan lansia. Sebagian pneumokokus dapat ditemukan sebagai flora normal saluran nafas atas, sedangkan yang lain merupakan kuman yang berhubungan dengan penyakit invasif (Invasive Pneumococcal disease / IPD). Penyakit yang termasuk dalam IPD antara lain pneumonia, meningitis, bakteremia, dan infeksi di tempat lain.

 

Berapa besar insidens IPD?

Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 10% dari 12 juta kematian pada balita setiap tahun akibat infeksi pneumokokus. Di negara berkembang, diduga sedikitnya 1.000.000 anak meninggal setiap tahun karena penyakit infeksi pneumokokus. Lebih dari 500.000 kasus pneumonia akibat pneumokokus ditemukan di Amerika Serikat dengan 40.000 kematian setiap tahunnya. Pneumonia pneumokokus merupakan 36% dari pneumonia komunitas (Community Acquired Pneumonia/CAP) dan 50% dari pneumonia nosokomial (akibat perawatan di rumah sakit). Angka kematian berkisar 5-7% dan lebih tinggi lagi pada individu lanjut usia. Bakteremia pneumokokus terjadi pada sekitar 25-30% pasien pneumonia pneumokokus dan mempunyai angka kematian yang tinggi (20%) dan lebih tinggi lagi pada pasien lanjut (60%) walaupun sudah diberikan terapi antibiotik. Meningitis pneumokokus juga mempunyai angka kematian sampai 80% pada usia lanjut dan umumnya terjadi komplikasi neurologis (fungsi saraf) pada pasien yang dapat bertahan hidup.

Bagaimana cara penularan IPD?

Penularan dapat terjadi melalui penyebaran Streptococcus pneumoniae dari manusia ke manusia melalui percikan ludah, batuk, bersin, dan kemudian udara yang mengandung bakteri tersebut terhirup oleh manusia lain atau dapat juga melalui close contact dengan jarak kurang dari 2 meter.

 

Siapa saja yang termasuk kelompok risiko tinggi?

Faktor risiko terjadinya kolonisasi kuman antara lain bayi yang tidak dapat ASI, infeksi virus pada saluran nafas atas, perokok pasif, saudara yang dititipkan di tempat penitipan anak, negara 4 musim pada musim dingin.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko penularan bakteri di lingkungan keluarga dan rumah tangga yaitu kepadatan hunian, cuaca, dan adanya pasien infeksi saluran pernafasan bagian atas, pneumonia, atau otitis. Risiko tinggi pada seseorang anak atau dewasa yang menderita asplenia, defisiensi imunoglobulin, sindroma nefrotik, mieloma multipel, AIDS, gagal ginjal kronik, transplantasi organ, keganansan limfoid, penyakit kardiovaskular kronis, penyakit paru kronis, diabetes mellitus, alkoholisme, sirosis hepatis, dan pasien dengan kebocoran cairan serebrospinal akibat operasi atau trauma.

 

Apa tanda/gejala yang muncul jika seseorang terinfeksi Pneumokokus?

Gejala yang dialami oleh individu yang terinfeksi Pneumokokus tergantung jenis sakitnya. Pneumonia merupakan manifestasi tersering penyakit pneumokokus pada orang dewasa. Gejala utama umumnya demam tinggi tiba-tiba dan mengigil. Gejala lain bisa berupa nyeri dada, batuk produktif / berdahak yang kecoklatan, sesak nafas, lemas, dll. Bila terjadi manifestasi meningitis bisa terjadi demam, nyeri kepala, kaku kuduk, kejang, bahkan penurunan kesadaran. Bila terjadi manifestasi otitis media bisa terjadi nyeri telinga, atau keluar cairan dari telinga.

 

Bagaimana cara mengetahui seseorang terinfeksi IPD?

Diagnosis definitif infeksi S. pneumonia bergantung isolasi organisme dari darah atau cairan tubuh lain, yang pada keadaan normal adalah steril. Pemeriksaan foto dada didapatkan tanda-tanda pneumonia. Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan peningkatan jumlah sel darah putih dan C-reactive protein, gambaran kuman pneumokokus pada dahak, hasil kultur dahak, darah, dan cairan lain yang terlibat tergantung manifestasi penyakit yang timbul.

 

Pengobatan apa yang diberikan jika seseorang menderita IPD?

Tatalaksana utama adalah pemberian antibiotika golongan penisilin dan turunannya. Antibiotika dapat menurunkan angka kematian hingga 90%, terutama pada penyakit pneumokokal invasif. Namun saat ini resistensi terhadap penisilin dan antibiotika lain semakin meningkat. Beberapa tempat di Amerika Serikat melaporkan sekitar 40% biakan Pneumokokus invasif telah resisten penisilin. Terapi pilihan selanjutnya biasanya menggunakan antibiotika golongan sefalosporin spektrum luas dan vankomisin, sampai didapatkan hasil kultur dan tes sensitifitas antibiotika. Hal inilah yang memicu dikembangkannya vaksin untuk pencegahan infeksi Pneumokokus.

 

Upaya pencegahan/imunisasi

Mengingat banyaknya angka kejadian infeksi Pneumokokus dan banyaknya laporan resistensi terhadap antibiotika, maka dikembangkan vaksin untuk pencegahan infeksi Pneumokokus.

 

Saat ini terdapat 2 jenis vaksin Pneumokokus:

1. Vaksin Pneumokokus Polisakarida (Pneumococcal Polysaccharide Vaccine=PPV)

Vaksin PPV 23 valen mengandung 23 serotipe yang bertanggung jawab terhadap   85 – 95% kasus IPD pada anak dan dewasa di Amerika. Vaksin PPV 23 yang tersedia di Indonesia adalah Pneumo-23®. Vaksin PPV tidak dapat merangsang respon imunologik pada anak usia muda dan bayi sehingga tidak mampu menghasilkan respon booster. Untuk meningkatkan imunogenesitas pada bayi maka dikembangkan vaksin pneumokokus konjugasi.

 

2. Vaksin Pneumokokus Konjugasi (Pneumococcal Conjugate Vaccine=PCV)

Vaksin PCV pertama berisi 7-valen, yang bertanggung jawab hampir 90% penyakit pneumokokal invasif pada anak usia muda di Amerika Serikat dan Kanada, dan 75% di Eropa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PCV 7 sangat efektif untuk mencegah serotipe IPD yang tercakup dalam vaksin (89%) dan untuk semua serotipe (63%-74%). Saat ini di Indonesia telah beredar vaksin PCV 13 (Prevenar 13®) yang menggantikan PCV 7, dan diberikan pada bayi 2 bulan – 5 tahun.

Vaksin PCV lain yang beredar di Indonesia yaitu PhiD-CV yaitu Synflorix® berisi 10 serotipe. Vaksin pneumococcal non-typeable Haemophylus influenza protein D (PhiD-CV) conjugate ini ditujukan untuk imunisasi terhadap IPD dan otitis media yang disebabkan oleh S. pneumonia dan non-typeable H. influenza. Vaksin jenis ini dapat diberikan pada bayi usia 2 bulan – 2 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa respon antibodi yang dihasilkan setelah vaksinasi memberikan hasil yang baik.

 

Rekomendasi Satgas Imunisasi IDAI dikeluarkan pada tanggal 15 Juni 2006:

Vaksin Pneumokokus Polisakarida (PPV 23) diberikan pada:

  • Lansia diatas 65 tahun
  • Diberikan pada anak ˃ 2 tahun yang memiliki risiko tinggi IPD (seperti disebutkan pembahasan diatas)

Vaksin Pneumokokus Konjugat direkomendasikan untuk:

  • Semua anak sehat usia di atas 2 bulan sampai 2 tahun untuk PCV 10/PhiD-CV, dan di atas 2 bulan sampai 5 tahun untuk PCV 13
  • Anak dengan risiko tinggi IPD (seperti disebutkan pembahasan di atas)
  • Anak yang tinggal di rumah dengan hunian padat, lingkungan merokok, di panti asuhan/tempat penitipan anak, dan yang sering terserang otitis media

 

Dosis dan cara pemberian

  • Vaksin PCV diberikan pada bayi usia 2, 4, 6 bulan, dan diulang pada umur 12-15 bulan.
  • Pemberian PCV minimal usia 6 minggu
  • Interval antara 2 dosis adalah 4-8 minggu

Apabila anak datang setelah berumur ≥ 7 bulan maka diberikan jadwal dan dosis PCV 13 seperti tertera pada tabel:

Umur datang pertama kali

Dosis vaksin yang diberikan

7-11 bulan

3 dosis*

12-23 bulan

2 dosis”

≥ 24 bulan – 5 tahun

1 dosis

Keterangan:

*2 dosis interval 4 minggu, dosis ketiga diberikan setelah 12 bulan, paling sedikit 2 bulan setelah dosis kedua; “2 dosis interval minimal 2 bulan

 

Reaksi apa yang mungkin terjadi setelah vaksinasi?

Vaksin Pneumokokus aman diberikan, tidak menyebabkan efek samping yang serius. Reaksi KIPI seringkali terjadi setelah dosis pertama

  • Efek samping berupa kemerahan, bengkak, nyeri di tempat penyuntikan
  • Efek sistemik yang sering terjadi berupa demam, gelisah, pusing, tidur tidak tenang, nafsu makan menurun, muntah, diare, urtikaria. Demam ringan sering terjadi tetapi demam tinggi diatas 39˚C jarang dijumpai dilaporkan setelah pemberian dosis ketiga
  • Reaksi berat seperti reaksi anafilaksis sangat jarang ditemukan
  • Pernah dilaporkan kejadian berupa sindroma nefrotik limfadenopati, dan immunoglobilinemia
  • Reaksi KIPI biasanya terjadi setelah dosis kedua, tetapi berlangsung tidak lama, akan menghilang dalam 3 hari

Oleh Dr. Hanang Anugrawan A. – RV Surabaya Lontar

 

 

SUMBER BACAAN :

  1. Pedoman Imunisasi di Indonesia edisi ke-4 tahun 2011, Satgas Imunisasi IDAI
  2. Pedoman Imunisasi pada orang dewasa tahun 2012, Satgas Imunisasi PAPDI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Copyright by rumahvaksinasi.id 2018. All rights reserved.